Historisitas Mahābhārata: Peristiwa Sejarah atau Karya Sastra?

Mahābhārata merupakan kisah kehidupan keluarga Bharata dengan perang saudara antara Pandawa dan Korawa sebagai klimaksnya. Kisah ini kemudian diceritakan kembali dalam bentuk prosa oleh Maharsi Wyasa, yang kemudian mengalami perkembangan menjadi karya sastra yang terdiri dari 100.000 sloka seperti yang kita warisi saat ini. Apakah kisah dalam Mahābhārata benar-benar merupakan peristiwa sejarah?



Kedudukan Mahābhārata dalam Weda

Weda dapat dibedakan menjadi Kitab Suci Weda (Sruti) dan Susastra Weda. Kitab Suci Weda terdiri dari mantra-mantra yang merupakan wahyu yang diterima oleh para Maharsi, baik secara individu maupun berkelompok. Kitab Suci Weda terdiri dari kitab Samhita (Rg Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda), kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad. Sedangkan Susastra Weda (Vedic Literature) merupakan kitab-kitab yang bukan merupakan wahyu atau kitab-kitab yang tidak tergolong ke dalam kitab-kitab Sruti. Yang dimaksud dengan Susastra Weda adalah kitab-kitab Wedaangga dan Upaweda. Wedaangga berisi petunjuk-petunjuk tertentu untuk mendalami Weda. Sedangkan Upaweda adalah buku-buku penunjang dalam memahami Weda.
Kitab-kitab Upaweda diantaranya adalah Dharmasastra, Purana dan Itihasa. Mahābhārata (bersama dengan Rāmāyana) termasuk ke dalam golongan Itihasa. Kata Itihasa mengandung arti “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”, juga dapat diartikan “sesungguhnya sudah terjadi begitu”. Peran Itihasa adalah untuk mengembangkan spirit dan ajaran yang terkandung dalam Weda dengan menceritakan kembali ajaran-ajaran dalam Weda dengan cerita-cerita popular sehingga lebih mudah dipahami.

Historisitas Mahābhārata

Mahābhārata merupakan kisah kehidupan keluarga Bharata yang diceritakan kembali dalam bentuk prosa. Mahābhārata seperti yang kita warisi sekarang ini yang mengandung 100.000 sloka bukanlah karangan Wyasa. Ia menyusun apa yang kemudian dikenal sebagai Jaya, yang hanya berisi 8.800 sloka. Kemudian Waisampayana mengembangkannya sehingga menjadi 24.000 sloka yang kemudian dikenal sebagai Bharata. Akhirnya Wahusika, putra Suta (kusir kereta) Lomaharsana, memberikannya bentuk seperti yang kita warisi sekarang, mengandung 100.000 sloka.

Salah seorang tokoh besar Hindu, Mahatma Gandhi, memberikan pandangannya terhadap historisitas Mahābhārata. Gandhi berpendapat bahwa dia tidak setuju jika Mahābhārata (maupun Rāmāyana) dikatakan sebagai peristiwa sejarah. Menurut Gandhi, baik Rāmāyana maupun Mahābhārata tidak lain hanyalah sejarah dari Diri (Atma). Keduanya bukan merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi ribuan tahun yang lalu. Sebaliknya Rāmāyana dan Mahābhārata adalah refleksi dari apa yang terjadi saat ini disetiap jiwa.

Mahatma Gandhi dan sebagian besar para peneliti, terutama peneliti barat menolak untuk menerima Mahābhārata (demikian juga Rāmāyana) sebagai karya sejarah karena tidak ada menyebutkan tahun dan tanggal peristiwa yang digambarkan di dalamnya. 

Bagi yang meyakini Mahābhārata sebagai peristiwa sejarah, beralasan bahwa historisitas peristiwa yang dijelaskan dalam Mahābhārata dapat divalidasi oleh bukti-bukti. Pertama adalah didasarkan pada tradisi, dan kedua didasarkan pada jyotisha, atau konfigurasi planet dan peristiwa angkasa lainnya yang sering disebutkan dalam bagian-bagian kisah Mahābhārata.

Penemuan reruntuhan kota Dwaraka oleh arkeolog Dr. SR Raodi bawah Laut Arab, juga memberikan bukti lain yang kuat bahwa kisah Mahābhārata adalah Peristiwa sejarah. Keterangan lain berasal dari prasasti Aihole yang dikeluarkan oleh raja Puleskin II menyatakan bahwa perang besar keluarga Bharata berlangsung pada 3138 tahun sebelum masehi. Sementara penobatan raja Pariksit, menurut seorang ahli astronomi bernama Aryabhatta, berlangsung pada 3102 tahun sebelum masehi.

Bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu penting untuk memperdebatkan apakah Mahābhārata merupakan peristiwa sejarah ataukah sebuah karya sastra. Satu fakta yang pasti, Mahābhārata merupakan samudra maha luas yang mengandung banyak sekali mutiara ajaran Hindu, seperti ajaran dharma, etika, Nitisastra, Karmaphala dan ajaran lainnya. 

Hingga saat ini keagungan nilai-nilai dalam Mahābhārata masih bertahan dan tidak lekang oleh jaman. Selalu ada hal menarik yang relevan untuk direnungkan dan menjadi pegangan dalam menentukan nilai-nilai kehidupan sehingga kisah besar ini tidak akan pernah habis dan selalu menarik untuk dikaji. Cerita dalam Mahābhārata yang sederhana, bagi orang awam, memungkinkan untuk menjadi pembanding kebijaksanaan Weda dan Upanisad yang amat dalam.

Mahābhārata menekankan pada nilai moral dan etika dari tradisi Hindu. Menyampaikan misi suci tentang spirit, kedermawanan, tapa brata, pemujaan, disiplin dan ajaran moralitas dengan bahasa yang mudah dan sederhana sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat mengembangkan kehidupan spiritual menurut ajaran Weda.

Sumber bacaan:
Itihasa Rāmāyana dan Mahābhārata (Viracarita) Kajian Kritis Sumber Ajaran Hindu, I Made Titib (2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar